Entri Populer

Rabu, 19 September 2012

TED


Let's Have Laugh Out Loud Without Pause.
But hey, This movie is for ADULT! Please noted, it's R-rated movie. 







Sabtu, 15 September 2012

Mama Cake



Sebaiknya, jangan remehkan film Indonesia. Jangan.

Dan jangan nonton, kalau gak siap untuk ditampar dengan keras! Ini film Indonesia yang berhasil bikin bengong dan kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya.












Judul review ini memang kelewat panjang tapi begitulah kalau sudah menonton film yang dari judulnya saja sebenarnya tidak menarik. Masak Mama Cake, ini film tentang orang yang jual atau bikin kue? Posternya juga biasa saja, ada tiga orang aneh berdiri menghadap kamera. Yang cukup terkenal paling Ananda Omesh karena kebetulan dia sering wara-wiri di televisi. Sutradaranya siapa: Anggy Umbara. Nah, siapa pula itu. Saya tahunya Garin Nugroho, Hanung Bramantyo dan Joko Anwar. Ah pasti film biasa saja. 

Begitulah awalnya saya menonton film Mama Cake. Tanpa pretensi dan ekspektasi yang biasa saja. Kebetulan diajak nobar sama Rivki dan @moviegoersID, gratis. Plus ada teman setia nonton Debi. Siapa tahu ketemu Omesh, dia lumayan charming. Untuk filmnya sendiri, saya sudah liat trailernya, gak jelek-jelek amat, setidaknya ada efek animasi dan editing gambar yang membuat beda. 

http://www.youtube.com/watch?v=uBUXSsK3pk4

Di layar saya lihat Mama Cake lulus sensor. Written and Directed by Anggy Umbara. Oh oke, ini personal touch!
,,,
2 setengah jam berlalu.
,,,
It slaps me on the face. Many times. Yeah, It does. Many times.
,,,
Saya bengong. Saya shock.  

Rabu, 22 Agustus 2012

Seven Something




“Hidup kita menjalani fase yang terus berubah setiap 7 tahun. Dari mulai usia 14, 21, 28, 35 atau 42. Ada fase tertentu yang kita jalani dan ada pelajaran yang kita lalui di setiapnya.”










 

Perahu Kertas



 Berlayar Tersendat Lalu Hanyut 


Sedari awal sebagai penonton saya sadar, ini adalah film. Medium yang berbeda dari novel Perahu Kertas yang sudah kadung menjadi salah satu bacaan favorit saya. Ketika di novel, imajinasi saya tumbuh liar menemukan sosok Kugy dan Keenan yang asik dan menyenangkan. Di film, imajinasi itu mesti berdamai dengan pilihan sutradara Hanung Bramantyo yang menghadapkan saya pada Maudy Ayunda dan Adipati Dolken. Dan saya harus menerimanya. 




Senin, 13 Agustus 2012

Street Dance 2 vs Step Up Revolution


Step Up 4 Revolution 


Massive, Wit, And MOVING!

Spoiler: Ini salah satu dance movie terbaik sepertinya untuk tahun ini. Dan mungkin yang paling digarap matang diantara tiga seri Step Up lainnya. Agak berlebihan, tapi dari segi gagasan dan koreo, serta totalitas penari, Step Up Revolution wajib tonton dan tidak akan mengecewakan.













Minggu, 15 Juli 2012

The Flowers of War



Film kolaborasi sutradara Zhang Yimou dan aktor Christian Bale ini berhasil membuat penonton merasakan getir yang dialami para korban perang dan wanita-wanita yang diperkosa di masa tragedi Nanjing 1937. Epic, heroic and tragic. 














Jumat, 01 Juni 2012

Lovely Man


Jilbab, Waria dan Jakarta

Sebuah fim yang indah dengan karakter dan dialog yang mengalir alami. Ketika seorang anak perempuan berjilbab melakukan perjalanan ke Jakarta menemui ayah yang sudah lama meninggalkannya yang ternyata seorang waria.

Duduk dalam sebuah kereta yang sedang berjalan, seorang perempuan berjilbab tampak resah. Dia memandangi secarik kertas alamat yang nantinya beberapa menit kemudian kita ketahui, dia sedang mencari seseorang. 


Namanya Cahaya (Raihaanun). Tepat di alamat yang tertera, dia mendapati para banci Taman Lawang (tempat kumpul waria pekerja seks komersil di Jakarta) sedang berjejer di pinggir jalan. Dia lalu  bertanya, “Ada yang tahu Syaiful?”. Hampir semua menggeleng. Tapi ada satu yang kemudian berseru kalau yang dimaksud itu ‘Ipuy’ bukan Syaiful, dan menunjuk ke salah satu diantara mereka. 

Dalam jarak dua meter Cahaya memandangi lekat ayahnya (Donny Damara) yang kini bersosok perempuan dengan rambut panjang (wig), muka penuh polesan bedak, baju merah ketat menyala dan sepatu berhak tinggi. Keduanya bertatap lama, seolah berdiam untuk satu hal: menerima atau menolak kenyataan?